Bujang Di Nagari Solok, “Makna Kota Solok Sebagai Kota Beras Serambi Madinah”

Daswippetra Dt.Mjj Alam sedang tauziah di Masjid Nagari Garabak Data

Oleh : Daswippetra, Dt.Mjj. Alam. Anggota DPRD Kota Solok.

Kamanakan barajo jo mamak, mamak barajo jo panghulu, panghulu marajo jo kamufakat, mufakat barajo ka nan bana, bana manuruik alua jo patuik.

Petatah tersebut menggambarkan seorang Bujang di Nagari Solok yang  harus mematuhi segala aturan yang ada di dalam kaum. Belajar untuk mengetahui semua aset kaumnya dan semua anggota keluarga kaumnya. Oleh karena itu, ketika seseorang berstatus menjadi kemenakan, dia selalu disuruh ke sana ke mari untuk mengetahui segala hal tentang adat dan perkaumannya.

Bujang di Nagari Solok yang berkedudukan sebagai mamak bertanggung jawab kepada kemenakannya. Dia bekerja di sawah kaumnya untuk saudara perempuannya anak-beranak yang sekaligus itulah pula kemenakannya. Dia mulai ikut mengatur, walau tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan mamaknya yang lebih tinggi atau penghulu.

Biriek biriek turun kasamak dari samak tabang kahalaman, patah sayok tabang baranti, di bao urang kasurau aso. Dari niniek turun kamak dari mamak ka kamanakan, patah tumbuah hilang baganti, namun pusako di sinan juo.

Penghulu berkewajiban menjaga keutuhan kaum, mengatur pemakaian harta pusaka. Dia juga bertindak terhadap hal-hal yang berada di luar kaumnya untuk kepentingan kaumnya. Setiap laki-laki terhadap kaumnya selalu diajarkan; kalau tidak dapat menambah (maksudnya harta pusaka kaum), jangan mengurangi (maksudnya, menjual,menggadai atau menjadikan milik sendiri).

Bujang di Nagari Solok yang terakhir adalah sebagai Sumando, yaitu sebagai tamu di rumah istri saat sudah menikah.

Sumando terbagi Empat :

  • Sumando ninik mamak.
  • Sumando kacang miang
  • Sumando lapik buruk.
  • Sumando langau hijua.

Pembagian Sumando ini berdasarkan sifat dan perangainya ketika dia tinggal di rumah istrinya. Sumando yang paling diidamkan adalah sumando ninik mamak.

Setiap laki-laki di Nagari Solok mengemban dua fungsi dan kedudukan, yaitu :

  1. Sebagai mamak dirumah orang tuanya.
  • Membimbing/memberi pelajaran dan contoh/tauladan bagi semua kemenakannya laki-laki maupun perempuan tentang adat istiadat hidup bermasyarakat.
  • Mengawasi dan melin dungi seluruh kemenakan nya laki-laki maupun perempuan dari segala hal yang mungkin merugikan atau memalukan kaumnya.
  • Memberikan bantuan ekonomis untuk semua kemenakannya dalam bentuk materi atau tenagadua pertujuh dari pengahasilannya.
  • Melindungi dan mengatur pengelolaan dan penggarapan harta pusaka tinggi, sawah atau ladang , dan mengawasi penggunaan hasil bumi dari pusaka tinggi.
  • Mewakili kaumnya dalam Rapat/gotong royong Nagari .
  1. Laki-laki sebagai urang sumando.
  • Sehari-hari dia dalam kedudukan yang dihormati, nama kecilnya tidak boleh dipanggil, harus dipanggil dengat gelar pusakanya.
  • Urang Sumando bertanggung jawab penuh atas nafkah untuk istri dan anak anaknya.
  • Semua rapat atau pertemuan para Mamak Rumah harus setahu dia, dan dia yang menyiapkan rumah serta keberlangsungan acara.  Apabila penyelenggaraan rapat tersebut terkait dengan penyelesaian masalah kaum di keluarga istrinya, maka Urang Sumando diperboleh hadir dan tidak hadir . Sebagaimana pedomana adat yang menyatakan : ” Pai jo mupakat – tingga jo rundingan.
  • Apabila kaum di keluarga isterinya berkehendak mengangkat anaknya menjadi Panghulu, maka harus atas persetujuanurang sumando, sebagai ayah/bapaknya. Begitu pula jika anaknya akan melangsungkan perkawinan, meskipun dalam pelaksanaan acara perhelatan – seorang mamak dapat ikut campur/membatalkan –  apabila dikawatirkan akan merugikan, atau memalukan kaumnya, maka ayah/bapak tetap dimintakan pendapatnya.
  • Bersambung*********************.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.