Pengawas Tauladan dan Berkarakter

Oleh : Dawai

Pengawas pendidikan merupakan sebagai tenaga kependidikan mempunyai peran yang sangat strategis di dalam meningkatkan kinerja sekolah melalui pembinaan dan pengawasan di bidang akademik dan bidang manajerial, sehingga pengawas sekolah harus memiliki kompetensi sebagaimana yang diatur dalam

Permendiknas No 12 tahun 2007. Menurut Zainal (2008:154) menyebutkan bahwa pengawas sekolah adalah tenaga kependidikan profesional yang memiliki tugas dan tanggung jawab serta wewenang penuh untuk melakukan pembinaan dan pengawasan pendidikan disekolah baik bidang akademik maupun bidang manajerial.   

Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) No. 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.” (UU Sisdiknas No. 20/2003 Pasal 1 ayat 2). Secara hakiki, pendidikan nasional berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik secara utuh sebagaimana dijelaskan pada ayat 1 “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Memperhatikan orientasi perkembangan peserta didik secara utuh tersebut, maka pelaksanaan pembinaan dan pengawasan pendidikan di sekolah baik bidang akademik maupun bidang manajerial diperlukan pengawas sekolah yang berkarakter”.

Pengawas sekolah yang berkarakter sangat terkait dengan pelayanan pendidikan karakter yang saat ini menjadi hangat dalam kajian akademik mengenai pendidikan di Indonesia. Pengawasan berkarakter merupakan syarat mutlak untuk dimilikinya perilaku berkarakter pada peserta didik. Karena perilaku  berkarakter peserta didik

merupakan perilaku yang dihasilkan dari proses belajar terhadap lingkungannya. Interaksi antara peserta didik  dengan kepemimpinan guru dan kepala sekolah tidak terbatas pada interaksi antar orang (siswa dengan guru atau siswa dengan kepala sekolah atau siswa dengan pengawas), tetapi juga terjadi dari hasil  interaksi antara  peserta didik dengan segala bentuk hal dan karya yang dihasilkan dan dikesankan oleh kepengawasan pengawas sekolah. Cat tembok sekolah yang nyaman dipandang  oleh warga sekolah merupakan suatu proses interaksi antara pengawas sekolah dengan warga sekolah. Demikian halnya semua interaksi yang terjadi disekolah juga merupakan perubahan sikap dari pengaruh seorang pengawas yang mampu mempengaruhi semua masyarakat sekolah sehingga menjadi perilaku-perilaku sesuai yang diharapkan di oleh pengawas sekolah.  Jadi dalam arti yang luas, kepengawasan berkarakter melibatkan semua hal yang dihasilkan oleh guru dan kepala sekolah yang kemudian akan berinterkasi/berpadu/menyatu dengan proses belajar peserta didik.

Menurut Alpiyanto (2011: 238-234) dari beberapa nilai-nilai karakter dapat dikristalisasi menjadi delapan belas nilai karakter yang dapat dikembangkan yaitu: Religius,
Jujur, toleransi, Disiplin, Kerja keras, keatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab

Untuk itu dalam melaksanakan tugas kepengawasannya seorang pengawas sekolah harus dapat menjadi tauladan/contoh bagi seluruh warga sekolah,  dalam bersikap dan bertindak. Untuk mewujudkan hal tersebut seorang pengawas dapat mengimplementasikan seluruh sikap dan tindakannya melalui aktualisasi dari kristalisasi nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.