‘Seminar Bogor’ Kasus Corona Klaster Kian Bertambah, Kini Sampai Lampung

Foto: Ilustrasi corona (Fauzan Kamil/detikcom)

Dawai News, Jakarta – Kasus Corona (COVID-19) di Indonesia terus bertambah. Seperti yang diberitankan Detik.Com, Jum,at, 20 Maret 2020, acara seminar di Bogor, Jawa Barat, diduga menjadi salah satu penularan virus Corona. Ada dua acara seminar di Bogor.

Sebagaimana diketahui, nama seminar di Bogor ini belum diungkap ke publik. Yang pertama adalah seminar ekonomi syariah. Menurut keterangan Bupati Bogor Ade Munawaroh Yasin, panitia acara seminar ini belum diketahui rimbanya.

“Soal Babakan Madang, hasilnya, panitianya belum ketemu. Kami juga sudah minta bantuan keamanan, tapi belum ketemu. Ini sedang di-tracking terus juga oleh pemerintah,” kata Ade, Kamis (19/3/2020).

“Kami juga butuh daftar peserta itu, kan untuk mengetahui apa ada warga Bogor yang ikut di situ atau tidak,” imbuhnya.

Politikus PPP ini menyebut seminar yang diselenggarakan itu mengambil tema antiriba dan dihadiri oleh orang-orang dari luar Bogor. “Seminarnya (tentang) antiriba,” ungkapnya.

Menurut Ade, Pemkab Bogor saat ini masih berkoordinasi dengan beberapa pihak sebagai upaya tracing untuk mengetahui riwayat perjalanan peserta seminar yang sudah dinyatakan positif dan meninggal dunia.

Selanjutnya ialah seminar keagamaan. Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Majelis Sinode selesai menggelar Persidangan Sinode Tahunan pada 26-29 Februari 2020 di Bogor. Usai acara, para peserta seminar diminta memeriksakan kesehatannya.

Dalam surat imbauan yang beredar dan sudah dikonfirmasi oleh pihak GPIB, disebutkan bahwa sidang tahunan sudah digelar. Beberapa peserta seminar mengalami kelemahan tubuh.

“Puji Syukur kepada Tuhan sang Pemilik Gereja bahwa acara Persidangan Sinode Tahunan GPIB 2020 di Bogor telah selesai kita laksanakan, walaupun beberapa dari kita mengalami kelemahan tubuh sepulangnya dari Persidangan tersebut,” sebut edaran yang diterbitkan pada 13 Maret 2020, dikutip Kamis (19/3/2020).

Kendati demikian, para peserta seminar di Bogor ini telah membawa virus Corona ke daerahnya masing-masing. Bahkan, dua orang di antaranya meninggal dunia.

Sejauh ini sudah ada 9 pasien Corona dari seminar di Bogor. Berikut ini daftar kasus Corona ‘seminar di Bogor’ per Jumat (20/3/2020) berdasarkan daerahnya:

Solo, Jawa Tengah

Ada enam pasien positif Corona yang dirawat di RSUD dr Moewardi, Solo. Keenam pasien ini semuanya memiliki riwayat dalam sebuah seminar di Bogor.

Dua di antara enam pasien tersebut telah meninggal dunia. Pasien pertama meninggal pada Rabu (11/3/2020) dan dimakamkan di Magetan.

Dia adalah seorang pria berusia 59 tahun. Dia tidak memiliki riwayat ke luar negeri, tetapi sempat mengikuti seminar di Bogor pada 25 hingga 28 Februari. Dia mulai mengeluhkan gejala batuk-pilek pada 29 Februari.

“Dia habis pulang seminar di Bogor, kebetulan keduanya peserta seminar di Bogor tanggal 25 sampai 28 Februari. Tanggal 29 mulai pilek-batuk, ke dokter, kemudian masuk karena keperburukan paru cepat, masuk observasi. Dibawa ke RSUD dr Moewardi, masuk PDP,” jelas dokter spesialis paru RSUD dr Moewardi, dr Harsini, Kamis (12/3).

Merespons peristiwa ini, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo menetapkan Solo berstatus kejadian luar biasa (KLB) pada Jumat (13/3).

Selang lima hari setelah meninggalnya pasien pria 59 tahun itu, satu pasien Corona lain meninggal di RSUD dr Moewardi. Dia adalah seorang perempuan berusia 49 tahun asal Wonogiri.

“Benar, warga kami positif COVID-19, kemudian meninggal tadi petang sekitar pukul 18.00 WIB di RSUD dr Moewardi, Solo,” ungkap Bupati Wonogiri Joko Sutopo kepada wartawan melalui telepon, Rabu (18/3/2020).

Joko mengatakan pasien tersebut merupakan warga Kecamatan Jatipurno. Dia termasuk dalam klaster yang ikut ke Bogor, Jawa Barat. Warga tersebut pulang dari Bogor pada 29 Februari 2020.

“Yang bersangkutan merasakan gejala demam-pilek sekitar 3 Mei, kemudian memeriksakan diri ke sebuah klinik, berlanjut ke rumah sakit. Lalu dirujuk ke (RSUD dr) Moewardi sejak 13 Maret lalu,” terang Joko.

Melihat dua pasien Corona di Solo sudah meninggal dua orang, Gubernur Jateng Ganjar mengaku telah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk melakukan penelusuran/tracking. Dia juga meminta para peserta seminar melapor.

“Harus tanya ke seminarnya di Bogor, kok banyak yang tertular. Koordinasi Dinas kesehatan Jawa Tengah dan Jawa Barat agar bisa dilakukan tracking cepat,” jelasnya.

Samarinda, Kalimantan Timur

Gubernur Kaltim Isran Noor mengatakan ada satu pasien positif virus Corona COVID-19 di wilayahnya. Satu pasien ini disebut pernah kontak dengan pasien positif Corona yang meninggal di Solo, Jateng.

Dijelaskan Isran, pasien positif itu diketahui baru pulang dari Kota Bogor untuk menghadiri pertemuan. Dia bahkan melakukan kegiatan di Jakarta. Setelah kembali ke Samarinda, dia sempat menuju Bontang dan kemudian menyadari tengah terpapar virus Corona.

“Yang bersangkutan sudah mendapat stressing. Dia sadar telah berinteraksi dengan pasien meninggal dari Solo, dia kemudian melaporkan kondisinya ke Dinas Kesehatan Samarinda,” ujar Isran di Samarinda, Kaltim, Rabu (18/3/2020).

Pasien itu tengah diisolasi di RSUD AW Sjahranie, Samarinda. Di samping itu, ada tiga pasien lainnya yang suspect virus Corona.

DIY

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan COVID-19, Berty Murtiningsih menyebut dua pasien positif Corona kasus baru di DIY sebelumnya bepergian ke luar daerah. Salah seorang pasien yang positif Corona itu diketahui juga menghadiri seminar di Bogor, Jawa Barat.

“Yang (pasien positif Corona umur 69 tahun dirawat) di RSUD Kota Yogyakarta, informasinya dari Bogor. Dia ikut seminar sama dengan (pasien positif Corona) yang di Solo,” ujar Berty melalui keterangan tertulis, Kamis (19/3/2020).

Berty menyebut penularan itu berasal dari luar DIY. Untuk pasien kedua yakni berjenis kelamin laki-laki berumur 50 tahun. Pasien ini dirawat di RSUD Panembahan Senopati, Bantul.

“Yang di RS Paseba (Penembahan Senopati Bantul) terinfo datang (dari) Jakarta,” ucapnya.

Berty menambahkan pihaknya saat ini tengah melakukan tracing terhadap kontak kedua pasien tersebut. Ini dilakukan guna memutus rantai penularan virus Corona.

Lampung

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Lampung, Reihana, mengkonfirmasi satu pasien dalam pengawasan (PDP) di Bandarlampung positif COVID-19. Hal ini dipastikan setelah hasil tes laboratorium di Litbangkes Kemenkes keluar.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium pengembangan dan penelitian Litbangkes dan pengumuman juru bicara pemerintah, satu pasien dalam pengawasan asal Provinsi Lampung terkonfirmasi positif COVID-19,” ujar Reihana, seperti dilansir dari Antara, Kamis (19/3/2020).

Dia menjelaskan, berdasarkan pengiriman dua sampel pasien pada Sabtu (14/3), didapatkan hasil laboratorium satu orang pasien positif dan satu pasien negatif.

“Satu pasien yang terkonfirmasi positif adalah pasien laki-laki berumur 62 tahun asal Bandarlampung, yang saat ini dalam penanganan di Rumah Sakit Abdoel Moeloek, sedangkan satu orang pasien negatif di RS A Yani Metro telah pulih keadaannya,” katanya.

Menurutnya, pasien positif COVID-19 pertama kali dilarikan ke fasilitas kesehatan oleh keluarga. Pasien tersebut sempat berkontak dengan penderita COVID-19 di salah satu seminar keagamaan di Kota Bogor pada 25-28 Februari 2020.

“Pertama kali yang mengantarkan pasien ke fasilitas kesehatan adalah anak pasien, hal tersebut karena kekhawatiran keluarga atas terjangkitnya salah satu peserta seminar keagamaan di Bogor,” kata Reihana.

Sumber ; Deti.com

Editor : sc

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.