Kementan Kinerjanya Cukup baik Masa Pandemi Covid 19

Foto Petani Padi

Dawai News, Jakarta – Kinerja Kementerian Pertanian (Kementan ) pada masa pandemik Covid-19 ini dinilai cukup baik. Terlebih, adanya kebijakan untuk memfokuskan kesejahteraan para petani, kata pengamat bidang pertanian dan perekonomian dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Muhammad Rusli Abdullah.

“Kebijakannya bagus ya, terkait bantuan untuk petani, itu harus memperhatikan locus-nya, apa namanya lokasi daerahnya,” kata Rusli kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2020.

Selain itu, dirinya juga menyarankan Menteri Pertanian dapat memetakan zona hijau juga diberi bantuan, lantaran di zona hijau tersebut juga terdampak oleh zona merah dalam hal pemasaran produk pangan.

“Misalnya, enggak ada orang yang jual, berdampak dong, pemerintah harus lihat ini, jangan suruh di zona merah aja yang dikasih bantuan, tapi zona hijau pun terdampak, harusnya juga dikasih bantuan,” ujarnya.

Sementara itu, di tengah musibah Covid-19 ini, ketahanan pangan sempat terganggu lantaran adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Namun, program strategi ketahanan pangan dalam menghadapi new normal bisa menjadi solusi bagi pemerintah mencegah babak belurnya sektor pertanian.

Sumber data BPS menyebutkan, produksi Januari-Mei 2020: 15,1 juta ton beras dan surplus stock pada akhir Mei sebesar 8,48 juta ton beras. Selanjutnya, BPS memprediksi stok beras akhir Juli mencapai 8,13 juta ton. Ini artinya stok banyak dan pangan cukup aman.

“Fine-fine saja, aman-aman. Cuma kan problemnya ada di logistik. Karena ada daerah yang khawatir, sampai bulan Juli ngamanin stok beras sampai panen. Di sinilah peran pemerintah menyerap beras,” ujar Rusli.

Selanjutnya disebutkan, Nilai Tukar Petani (NTP) turun karena pandemi Covid19 di mana distribusi dan transportasi tidak lancar, warung, hotel, restoran dan kantor pada tutup sehingga daya beli turun.

“Tapi ini kan situasional sesaat saja dan akan segera pulih kembali normal. NTP akan meningkat selama harga gabah meningkat. Asumsinya harga indeks spending-nya tetap, kalau sama ya sama saja, saling berkejaran, harga jual gabah dibagi dengan indeks yang dibayarkan. Kalau diterima lebih besar dari pengeluaran ya harganya otomatis tinggi,” jelasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meminta kepada jajarannya untuk memitigasi ancaman krisis pangan akibat pandemi Covid-19 dan musim kemarau lebih kering di Indonesia.

Ketersediaan pangan dan harga yang terjangkau menjadi fokus pemerintah di tengah pandemi virus corona. Untuk itu, pemerintah memberikan stimulus kepada petani dan nelayan Rp34 triliun untuk menjaga produksi pangan.

Sumber          : Pasardana

Editor             : Redaksi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.