Guru Untuk Berinovasi dan Berdedikasi

Oleh : Zulkisar,S.Pd,MM, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Solok.

Guru merupakan sosok  manusia yang berjasa dalam mengantarkan kehidupan alam ini untuk lebih berguna dan bermanfaat , dengan Guru manusia bisa memperoleh ilmu pengetahuan dan hikmah yang besar dalam perjalanan  ummat manusia ini.  Citra Guru yang terbentuk di dalam dirinya sampai saat ini, bukanlah sosok berdasi, intelektual ulung dalam menyiapkan masa depan, tetapi sekedar sebagai pekerja suara yang berangkat subuh pulang malam, demi kemajuan bangsa ini .

Posisis guru  agar peran dan profesionalitas tercapai. Saat ini, apresiasi masyarakat semakin tinggi terhadap Guru, Pemerintah semakin sungguh-sungguh berupaya mensejahterakan Guru, bahkan telah dikeluarkan Undang-undang  tentang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 untuk menambah finasial sang pahlawan tanpa tanda jasa,media massa semakin gencar memberitakan tentang kinerja guru.

Dari segi kemampuan ekonomis, guru tidak lagi dipandang sekedar sebagai pengamen,  penjual diktat dan buku di madrasah dan Sekolah, sehingga dapat membeli sepeda motor dan Mobil. Atau setelah jam dinas bergilir memenuhi panggilan dari pintu ke pintu, sekedar mencari agar dapur tetap berasap.

Bagaimana  Guru  sendiri saat ini sebagai pelaku utama pendidikan? dalam Undang-Undang  Guru dan Dosen disebut tenaga profesional. Sama dengan dokter, Pengacara dan lain-lain.  Banyak pernyataan kritis sering kita dengar, kita lihat, dan kita baca menyangkut eksistensi, kompetensi, dan kinerja Guru sebagai tenaga profesional  memang masih memprihatinkan.

Kenyataan rendahnya kompetensi guru itu, tidak perlu malu untuk disikapi oleh guru itu  sendiri. Perlu dijadikan renungan. Dari mana harus merubah citra guru? Kuncinya ada para guru itu sendiri. Bagaimana mereka akan menjadikan dirinya profesional. Itu kembali kepada para guru. Karena dihadapan kita terbentang lautan sumber pengetahuan yang tiada batas.

Bagaimana menjadi guru yang lebih profesional, efektif, dan bermutu, kata kuncinya pada “perubahan¨. Kita semua membutuhkan perubahan. Termasuk para guru. Perubahan demi suatu keyakinan, dan demi ketangguhan profesi guru menjadi perkara yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Untuk menjadi lebih baik, tidak mungkin para guru hanya berpuas pada status quonya. Malas menambah wawasan. Dan merasa paling mengetahui banyak hal. Padahal  saat ini guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan bagi para anak didik. Tidak sedikit guru yang tanggap akan tuntutan profesionalnya sebagai pendidik.

Tetapi juga tidak kurang sedikit guru yang diam di zona nyaman. Malas meningkatkan ketrampilan dan profesionalismenya.  Mungkin ada  satu hal yang perlu kita refleksikan, mengapa guru takut berubah. Atau malas berubah. Sebab-sebab paling dasar keraguan terhadap dampak dan efek dari entitas perubahan itu sendiri. Perubahan memunculkan ketegangan dan kerumitan. Perubahan mendatangkan stres dan tekanan.

Apalagi untuk menjadi guru baik. Citra guru yang baik, dapat mengangkat citra dan kuwalitas pendidikan. Kualitas pendidikan yang baik, dapat mengangkat martabat bangsa. Tetapi permasalahannya, dari mana harus dimulai?
Untuk memperbaiki citra guru, mereka harus berani membedah diri. Guru profesional itu, guru yang mengenal dirinya. Dirinya sebagai pribadi yang terpanggil untuk mendidik manusia. Untuk itu, guru dituntut untuk belajar sepanjang hayat (long life education).

Medan belajar adalah medan yang menyenangkan. Menjadi guru bukan hanya sebuah proses yang harus dilalui melalui test kompetensi dan sertifikasi. Karena menjadi guru menyangkut perkara hati. Maka mengajar harusnya menjadi profesi hati.

Hati harus mendapat perhatian cukup yaitu pemurnian hati, atau motivasi untuk menjadi guru profesional. Pemurnian hati itu, akan mendorong kita senantiasa meningkatkan kemampuan untuk mentranferkan ilmu pengetahuan kepada anak didik.

Paling tidak ada 3 (tiga) kata kunci yang menjadikan guru itu menjadi penting. Tiga kata kunci itu sekaligus menjadi sifat dan karakteristik guru yakni;  Kreatif, Profesional dan Menyenangkan.
Mengapa guru harus kreatiaf ? Karena harus memilah dan memilih materi pembelajaran, Dan kemudian secara kreatif menyajikan menjadi bahan pembelajaran yang yang penuh makna, dan berkualitas. Sedang sifat profesional, karena guru harus secara profesional membentuk kompetensinya sesuai dengan karakter peserta didik. Juga bagi dirinya. Berarti belajar dan pembelajaran harus menjadi makanan pokok guru.

Tetapi guru juga harus menyenangkan. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi peserta didik. Menjadi guru kreatif, profesional, dan menyenangkan itu akan terwujud, jika si guru mau secara terus-menerus meningkatkan kemampuan dan ketrampilan. Mau belajar.

Guru sebagai profesional (sama dengan profesi dokter, pengacara, sekretaris, dan lain-lain), tanggung jawab utamanya mengawal perkembangan pribadi siswa. Peran pendampingan itu tidak mungkin akan berhasil jika guru tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang profesioanal.

Guru profesional biasanya memiliki Pengetahuan dan ketrampilan, moral dan idealism yang tinggi. Pribadi guru yang kreatif, profesional, dan menyenangkan, terus berupaya untuk membangun citra dirinya secara positif. Berkomitmen pada pengabdian pada pendampingan kepada peserta didik. Ia selalu berupaya meningkatkan kemampuan dan ketrampilan sebagai profesional dalam pendidikan.

Maka dalam proses pembelajaran di kelas selalu mencari bentuk-bentuk kreatif dan efektif bagi dirinya dan bagi peserta didik.  Guru kreatif akan mewujudkan pembelajaran yang inovatif. Guru kreatif dan pembelajaran inovatif dapat mewujudkan madrasah dan sekolah efektif.

Dalam membangun citra guru yang profesional dan inovatif dan kreatif perlu memiliki kemauan dan perubahan bagi seorang guru walaupun mereka tidak cafabelitas dan akuntabilitas dari segi akademik namum bila ada kemauan dan perubahan pasti ada jalan untuk bisa dan maju, seorang guru tidak dapat dirubah oleh orang lain bila tidak ada kemauan dalam dirinya*******.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.