oleh

Gauang Dalam Tradisi “Mamarik Kubua”

-Inspirasi-10 views

Disusun Oleh : RD.M

Gauang sebuah Nagari yang terletak di Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok merupakan  Nagari kecil yang unik. Tak banyak orang yang tau, namun sebagai bagian dari wilayah adat Minangkabau banyak hal menarik dan terus menjadi tradisi sampai saat sekarang.

Tradisi yang masih mengakar kuat di Gauang salah satunya  adalah “mamarik Kubua”. Setelah tujuh hari setelah penguburan seseorang yang telah meninggal dunia maka pusara/kuburan tersebut akan dibenahi. Hal ini disebut dengan mamarik Kubua.

Mamarik Kubua adalah pekerjaan untuk memagari sebuah kuburan maksudnya adalah untuk melindungi sebuah kuburan baru. Semula setelah dikuburkankan kuburan hanyalah sebuah gundukan tanah biasa dengan hanya sebuah batu yang dijadikan nisan sebagai penandanya kemudian dihiasi oleh seranting patahan bunga ataupun patahan sebatang pohon kecil pudiang/kemboja sebagai penanda bahwa itu adalah sebuah kuburan. Maka pada acara mamarik kubua, kuburan  itu akan ditambahkan dengan pagar bambu untuk melindungi perkuburan ini supaya kuburan ini tidak di rusak oleh binatang-binatang dan faktor perusak lainnya.

Pagar kuburan ini dari dahulu kala dibuat dari bambu yang mudah didapat.Tetapi tidak tertutup kemungkinan dan bahkan telah banyak zaman sekarang diparit secara permanen dengan konstruksi semen.

Orang yang bekerja dan bertanggungjawab mamarik kubua ini adalah semua penduduk kampung maksudnya karib kerabat yang dilaksanakan secara gotong royong. Secara spontan dengan membawa berbagai peralatan yang diperlukan seperti kapak, gergaji, gergaji mesin paku dan ladiang mereka datang dan bekerja bersama-sama pada  suasana kekeluargaan.

Selain bermakna kebersamaan dan gotong royong yang masih kental mendarah daging pada masyarakat Gauang sendiri, rupanya ada rahasia lain dibalik prosesi ini, bagi seorang datuk atau mamak yang hadir maka ia akan menceritakan sekaligus mewariskan pengetahuan tentang tanah,sawah beserta batas-batasnya pada kemenakannya yang nanti akan melanjutkan kepemimpinannya, karna masyarakat minangkabau menganut suatu sistim matrilineal dan bagi anggota keluarga yang laki-laki hanya mempunyai hak untuk merawat dan menggunakan segala macam fasilitas dalam bentuk harta pusaka yang dimiliki tetapi bukan hak untuk menjualnya.

Pada sangat ini mamarik kubua waktunya agak digeser, tidak lagi pada hari ketujuh setelah kematian tetapi pada hari kesepuluh. Dan dinagari ini masih dilaksanakan dan disengaja bertepatan dengan acara mendoa untuk almarhum/almarhumah dihari kesepuluh tersebut.

Hal ini efektif dan efesiennya waktu yang terpakai sebab setelah paginya mamarik kubua siangnya setelah shalat Zuhur langsung prosesi mendoa.

“Mamarik kubua adik kami D.M.M.R. B. ( disimarkan) pagi ini kita  laksanakan sesuai lazimnya saja sebatas pakai bambu mengingat kondisi tekstur tanah yang masih labil setelah penggalian “, kata Pangulu suku Caniago B.D.R. I. ( disamarkan).

Hal ini diperkuat oleh Pangulu suku yang ada di Nagari Gauang (suku di Nagari Gauang Tiga) ,”nanti beberapa waktu kedepan Kita cari waktu yang tepat untuk mempermanenkan pusara ini”.

“Kami anak menuruti kata sepakat pihak Bapak”, putra almarhum B.H (disamarkan).

Spread the love

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.