oleh

“Dulu – Sekarang”Guru Digugu dan Ditiru

-Opini-43 views

Disusun        : Dafrizal 

Siapa Guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan kita, Kalau saya yang menjawab, ada Dua Orang dengan Inisial nama nya yaitu Ibuk I dan Ibuk R,  semasa Sekolah Dasar di SD Inpres Nagari Gauang, Kecamatan Kubung Kabupaten Solok, Sumbar. Sosoknya sungguh sangat membekas di hati bukan hanya karena kemampuan mengajar dan kecerdasan melainkan keikhlasan, kewibawaan, dan keteladannya.

Beberapa kali selepas menjadi Alumni, saya bertemu beliau tak ada yang berubah dari sikapnya, ia tetap memandang saya seperti anaknya dengan penuh kasih sayang hingga titik tertentu ia memperlihatkan kewibawaannya sehingga saya masih dengan tekun mendengarkannya segala wejangannya yang menyejukan.

Pada masa 1970an atau mungkin masa-masa sebelumnya hingga kurang lebih awal tahun 90-an, dalam penglihatan dan pengamatan saya merupakan sosok yang dianggap mulia dan agung, baik dilingkungan sekolahan atau pun lingkungan masyarakat umum.

Di sekolah, guru begitu dihormati dan diteladani oleh murid-muridnya. Di lingkungan masyarakat guru menjadi salah satu sumber rujukan baik dalam ucapan, perbuatan, dan pemikirannya.

Mengapa demikian, lantaran ungkapan Guru itu di “gugu lan di tiru” benar-benar melekat kepada diri dan kehidupannya sehari-hari. Menjaga betul marwah profesinya sebagai guru.

Ungkapan itu tak hanya menjadi sebuah ungkapan tanpa makna, bahkan masyarakat tak akan melihat mata pelajaran apa yang diampu oleh guru tersebut, sepanjang dia seorang guru maka masyarakat akan sepakat bahwa dia bisa diandalkan.

Saya dari tadi menulis seolah itu terjadi dulu tidak hari ini, seolah ungkapan guru di gugu dan ditiru itu maknanya tak sedahsyat masa lalu. Mungkin itu bisa menjadi bahan introspeksi bagi para guru, yang menurut sebagian pendapat sudah mulai luntur frasa di gugu dan ditiru-nya.

Sebagian orang berpendapat, bahwa guru-guru saat ini menjalankan profesinya hanya sebatas untuk mengugurkan tugas, dan terjebak dalam rutinitas mengajar yang kadang dianggap minim akan pemaknaan.

Ungkapan Guru di gugu dan di tiru itu bukan perkara kaleng-kaleng, maknanya cukup dalam. Menurut sejumlah sumber bacaan yang saya dapatkan, digugu memiliki makna dipercayai sehingga berujung dipatuhi, sedangkan ditiru memiliki arti dikitu atau diteladani.

Jadi untuk menjadi seorang guru itu harus mampu mengaktualisasikan dua kata tersebut secara nyata. Segala penyampaian dari guru haruslah sebuah kebenaran berdasarkan keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga menumbuhkan keyakinan bagi siapapun terutama murid yang mendengarkannya.

Dan jangan lupa segala tindak tanduk harus lah mencermin sebuah ketauladanan yang bagi siapapun yang menyaksikannya. Waduh berat sangat menjadi guru itu ternyata, memang! Makanya saya tak mau menjadi guru bukan karena profesi itu tidak menjanjikan, tetapi saya merasa tak memiliki kapasitas yang cukup untuk sampai pada tahap “digugu dan ditiru” itu.

 

Apakah dengan demikian menjadi guru itu harus menjadi “Manusia Setengah Dewa” seperti lagunya Bang Iwan Fals.Menurut referensi yang saya dapatkan, ternyata untuk menjadi guru yang memiliki kemampuan digugu dan ditiru erat kaitannya dengan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh para guru, yakni Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Profesional.

Apabila empat kompetensi ini dimiliki dan dipraktikan dengan baik oleh para guru maka potensi pengimplementasian digugu dan ditiru akan dengan sendirinya hadir dari dalam diri guru tersebut.Secara teknis mungkin bisa jadi seperti itu, agar bisa dipercaya dan dipatuhi, seorang guru haruslah memiliki pemahaman yang luas dan mendalam terhadap ilmu pengetahuan yang hendak ia sampaikan.

idak cukup dengan itu, seorang guru juga harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai metode dalam menyampaikannya. Bagaimana mungkin seorang guru bisa meyakinkan muridnya kalau ia lemah dalam pemahaman dan penyampaian. Maka seorang guru harus senantiasa memperbaharui kompetensinya, baik dalam hal keilmuan maupun metode pembelajarannya. Itulah kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.

Namun ada lebih dari sekedar urusan teknis pembelajaran sebenarnya yang lebih penting bagi guru untuk menjadi sosok yang layak untuk digugu dan ditiru, yakni karakter dan attidute. Seorang guru harus memiliki kepribadian yang mature, luhur, berwibawa, dan mulia akhlaknya.

Selain itu guru pun harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik, sehingga ia mampu menciptakan hubungan dan interaksi yang selaras dengan tujuan pendidikan baik disekolah maupun ditengah masyarakat. Inilah implementasi dari kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.

Apakah sesuatu yang mudah untuk mencapai posisi dan kondisi ideal seperti itu, tentu tidak.  Butuh proses dan dukungan dari semua pihak terutama dari Pemerintah agar ungkapan guru di gugu dan ditiru itu benar-benar bisa diaktualisasikan.

# SELAMAT HARI GURU# dawainews.com

 

Spread the love

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.